Banjir Rendam Puluhan Sekolah di Ketanggungan Brebes, Dindikpora Bergerak Cepat Selamatkan Aset dan Kelangsungan Belajar

Kondisi banjir merendam sekolah di Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes tahun 2026
Banjir merendam sejumlah sekolah di Ketanggungan Brebes, Dindikpora langsung turun ke lapangan untuk evakuasi aset dan pendataan kerusakan.

Ketanggungan Brebes, brebesku.web.id – Gelombang banjir yang menerjang Kecamatan Ketanggungan pada akhir Maret 2026 tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga melumpuhkan aktivitas belajar di puluhan sekolah. Merespons kondisi darurat ini, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Brebes langsung menerjunkan tim ke lapangan untuk menyelamatkan aset pendidikan dan menjaga kelangsungan layanan belajar bagi ribuan siswa korban banjir sekolah Ketanggungan Brebes.

Bacaan Lainnya

Kepala Dindikpora Brebes, Sutaryono, memimpin langsung peninjauan bersama Kepala Bidang Pendidikan Dasar Aditya Perdana dan Kepala Bidang Pendidikan Nonformal dan Informal Herkusnadi. Ketiganya menyisir sejumlah sekolah yang kebanjiran, memetakan tingkat kerusakan, serta menyusun strategi pemulihan bertahap agar proses pendidikan segera berjalan kembali.

“Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas pertama. Setelah itu, kami fokus menyelamatkan aset dan memastikan layanan pendidikan tetap berjalan,” tegas Sutaryono saat berada di lokasi, Kamis (26/3/2026).

Genangan Merendam Sekolah dari Jenjang PAUD hingga SMP

Data awal Dindikpora menunjukkan banjir menjangkau satuan pendidikan di seluruh jenjang. Pada tingkat pendidikan anak usia dini, air merendam TK RI Ketanggungan, TK RI Dukuhtengah, dan TK Pembina. Ketiga lembaga ini menyimpan banyak alat peraga dan perabot berukuran kecil yang sangat rentan rusak ketika air menggenanginya dalam waktu lama.

Di tingkat sekolah dasar, dampaknya jauh lebih masif. Genangan meluas dari SD Negeri Ketanggungan 1 hingga SD Negeri Ketanggungan 10, serta menyasar sejumlah sekolah di wilayah Buara. Air menyerbu ruang kelas, perpustakaan, gudang penyimpanan, dan ruang administrasi sekaligus.

Jenjang SMP turut menanggung dampak serupa. SMP Negeri 1 Ketanggungan, SMP IBU Karangmalang, dan SMP Negeri 3 Kersana melaporkan gangguan dengan tingkat keparahan yang berbeda. Beberapa sekolah hanya mengalami kerusakan ringan pada perabot, sementara yang lain menghadapi masalah lebih serius pada struktur bangunan dan instalasi listrik.

Seluruh angka ini masih bersifat sementara. Tim lapangan baru bisa menjalankan verifikasi menyeluruh setelah air benar-benar surut dan petugas dapat memeriksa setiap ruangan secara detail. Kondisi meja, kursi, buku, komputer, serta arsip administrasi biasanya baru terlihat jelas setelah petugas menyelesaikan pengecekan satu per satu.

Evakuasi Aset dan Pendataan Kebutuhan Mendesak

Dindikpora menginstruksikan seluruh kepala sekolah agar segera mengevakuasi dan menyelamatkan aset sekolah. Guru dan tenaga kependidikan bergerak memindahkan dokumen penting, perangkat pembelajaran, serta perlengkapan sekolah ke tempat yang lebih tinggi dan aman dari jangkauan genangan.

Keberhasilan evakuasi aset sangat menentukan kecepatan pemulihan. Sekolah yang berhasil mengamankan arsip siswa, dokumen akreditasi, dan peralatan utama akan lebih mudah memulai kembali kegiatan belajar tanpa menunggu proses pengadaan ulang yang memakan waktu dan biaya besar.

Setelah fase evakuasi, tim Dindikpora menjalankan pendataan cepat atau rapid assessment. Mereka mencatat seluruh kebutuhan mendesak di setiap sekolah, mulai dari pembersihan ruang belajar, perbaikan fasilitas, hingga penggantian sarana yang sudah tidak bisa berfungsi kembali. Hasil pendataan ini menjadi landasan penyusunan anggaran darurat dan penentuan skala prioritas perbaikan.

Sutaryono menegaskan bahwa data lapangan yang akurat akan memperkuat usulan bantuan ke pemerintah provinsi dan pusat apabila kebutuhan pemulihan melampaui kapasitas anggaran daerah. Dindikpora tidak sekadar menghitung luasan genangan, melainkan mengukur dampak banjir terhadap kelangsungan proses belajar di setiap sekolah agar pemerintah mengambil keputusan yang tepat sasaran.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *