Program MBG Jawa Tengah Jadi Pilot Project Penguatan Kemitraan Nasional

FGD Penguatan Kemitraan Program MBG Jawa Tengah dengan Kemenko Pangan di Semarang
Deputi Kemenko Pangan Dandy Satria Iswara membuka FGD Penguatan Kemitraan MBG di Jawa Tengah yang ditetapkan sebagai pilot project nasional, Senin (13/4/2026).

Dalam hal ini, belanja bahan pangan program MBG Jawa Tengah mengalir kepada petani, nelayan, dan pelaku UMKM di seluruh provinsi. Oleh sebab itu, program yang awalnya bertujuan meningkatkan gizi masyarakat ini juga berperan sebagai stimulus ekonomi lokal. Selain itu, efek pengganda ekonomi dari program ini sangat signifikan bagi kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Dandy juga menyoroti dukungan infrastruktur di Jawa Tengah yang dinilai kuat untuk mendukung program ini. Lebih dari 8.500 koperasi desa dan kelurahan Merah Putih telah terbentuk di seluruh Jawa Tengah. Dari jumlah itu, sekitar 6.200 di antaranya sudah operasional dan siap mendukung rantai pasok program MBG.

Bacaan Lainnya

Ekosistem ini dinilai dapat memperkuat konektivitas antara produksi pangan dan kebutuhan SPPG di seluruh wilayah. Dengan demikian, distribusi bahan pangan menjadi lebih efisien dan tepat sasaran. Oleh karena itu, model kemitraan ini dapat menjadi best practice bagi provinsi lain di Indonesia.

Penguatan Sektor Perikanan dalam Pilot Project Kemitraan MBG

Dalam penguatan rantai pasok, sektor perikanan menjadi fokus utama karena memiliki potensi besar baik dari perikanan tangkap maupun budidaya. Komoditas seperti lele, nila, patin, tongkol, dan tuna dinilai sebagai sumber protein yang terjangkau dan melimpah. Oleh sebab itu, pemerintah mendorong agar ikan tidak hanya menjadi menu pelengkap tetapi menjadi menu utama dalam program MBG.

Lebih lanjut, penguatan juga dilakukan melalui pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih yang telah siap infrastruktur di beberapa daerah Jawa Tengah. Di antaranya Jepara, Pati, Kebumen, dan Purworejo yang sudah memiliki fasilitas lengkap. Secara nasional, pemerintah telah membangun 65 kampung nelayan dan menargetkan tambahan 35 lokasi.

Sementara itu, pengembangan budidaya melalui bioflok tematik juga telah dilakukan di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Seperti Batang, Kendal, Magelang, Kabupaten Semarang, dan Boyolali yang menjadi sentra budidaya ikan. Dengan demikian, Jawa Tengah memiliki kekuatan hulu yang lengkap untuk mendukung kebutuhan bahan baku program MBG.

“Langkah ini memperlihatkan Jawa Tengah memiliki kekuatan hulu yang lengkap untuk mendukung kebutuhan bahan baku program MBG,” tegas Dandy menjelaskan keunggulan provinsi ini.

Respons Positif Pelaku UMKM terhadap Program Kemitraan

Di sisi lain, pelaku UMKM menyambut positif penguatan kemitraan dalam program MBG Jawa Tengah ini. Pemilik usaha olahan ikan nila asal Banyumas, Sri Narsih mengatakan produknya mulai dilirik untuk memenuhi kebutuhan menu SPPG. Olahan nila crispy yang dia produksi menjadi alternatif sumber protein hewani yang praktis dan tahan lama.

“Saat ini produk kami telah masuk ke sejumlah SPPG di beberapa daerah. Permintaan yang meningkat membuat kami menambah pasokan bahan baku dari berbagai wilayah di Jawa Tengah,” tutur Sri Narsih menjelaskan perkembangan bisnisnya.

Lebih lanjut, ia berharap penguatan kemitraan ini dapat memperluas pasar produk olahan ikan sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM. Dengan demikian, program MBG tidak hanya memberikan manfaat gizi bagi penerima tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci keberhasilan program ini.

Harapan Pemprov Jateng terhadap Penguatan Kemitraan Sektor Perikanan

Sementara itu, Pelaksana Tugas Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Jawa Tengah, Hanung Triyono menyampaikan potensi perikanan Jawa Tengah sangat besar. Provinsi ini memiliki wilayah pesisir utara dan selatan yang kaya akan sumber daya perikanan. Oleh sebab itu, program MBG menjadi momentum untuk meningkatkan konsumsi ikan sekaligus mendorong hilirisasi produk perikanan.

“Penguatan kemitraan antara nelayan, pembudidaya, UMKM, dan SPPG diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah sektor perikanan,” ujar Hanung menjelaskan harapan pemerintah provinsi.

Melalui sinergi tersebut, Jawa Tengah diharapkan dapat memperkuat ekonomi lokal dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Selain itu, sektor perikanan diharapkan menjadi lebih berdaya saing dan berkelanjutan. Dengan demikian, program MBG Jawa Tengah tidak hanya menyelesaikan masalah gizi tetapi juga menggerakkan perekonomian daerah secara menyeluruh.

Pada akhirnya, keberhasilan program MBG Jawa Tengah yang menjadikan provinsi ini sebagai pilot project penguatan kemitraan menunjukkan komitmen kuat pemerintah daerah. Dengan capaian 97 persen pembangunan SPPG, sertifikasi yang memadai, dan dukungan infrastruktur yang kuat, Jawa Tengah siap menjadi model bagi provinsi lain dalam implementasi program strategis nasional ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *