Losari Brebes, brebesku.web.id – Banjir rob di pesisir Brebes kembali meluas pada awal November 2025 dan merendam ribuan rumah warga di kawasan pantai utara Kabupaten Brebes. Air laut pasang menggenangi permukiman, sekolah, jalan desa, hingga tambak sehingga aktivitas ekonomi dan pendidikan warga terhenti sementara.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes mencatat banjir mulai terjadi sejak dini hari, Selasa, 4 November 2025. Desa Prapag Lor di Kecamatan Losari menjadi wilayah terdampak paling parah. Lebih dari 2.100 kepala keluarga terdampak dengan ketinggian air berkisar 50 hingga 90 sentimeter di sejumlah titik.
Genangan air menutup akses jalan utama dan lingkungan permukiman. Sejumlah siswa sekolah dasar harus pulang menggunakan perahu karena halaman dan ruang kelas terendam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa banjir rob di pesisir Brebes tidak lagi sekadar fenomena musiman, tetapi persoalan lingkungan yang membutuhkan penanganan terintegrasi.
Dampak Sosial dan Ekonomi Banjir Rob di Pesisir Brebes
Sektor pendidikan menjadi salah satu yang terdampak langsung. Sekolah dasar dan madrasah di wilayah pesisir terpaksa meliburkan kegiatan belajar mengajar karena akses terputus dan ruang kelas tidak dapat digunakan. Guru dan siswa kesulitan menjangkau lokasi sekolah akibat genangan air yang cukup tinggi.
Di sektor ekonomi, aktivitas pasar tradisional menurun drastis. Sejumlah pedagang tidak membuka lapak karena lokasi berdagang terendam air asin. Selain itu, petambak udang dan bandeng mengalami kerugian akibat rusaknya tanggul tambak dan terganggunya siklus budidaya. Air laut yang masuk ke tambak berpotensi menurunkan kualitas hasil panen.
Warga memperkirakan kerugian ekonomi mencapai jutaan rupiah hanya dalam beberapa hari. Pekerja harian juga kehilangan pendapatan karena tidak dapat beraktivitas seperti biasa. Situasi ini memperlihatkan bahwa banjir rob berdampak langsung pada ketahanan ekonomi rumah tangga di pesisir.
Ancaman kesehatan turut meningkat. Genangan air laut yang bercampur limbah domestik memicu risiko penyakit kulit, diare, dan infeksi saluran pernapasan. Lingkungan padat penduduk memperbesar potensi penularan penyakit apabila tidak diimbangi dengan upaya pencegahan yang memadai.
Infrastruktur desa ikut terdampak. Jalan lingkungan, saluran drainase, serta fasilitas ibadah terendam. Paparan air laut yang bersifat korosif berpotensi mempercepat kerusakan bangunan dan memperbesar biaya perbaikan di kemudian hari.
Langkah Pemerintah Hadapi Banjir Rob di Pesisir Brebes
Pemerintah Kabupaten Brebes bersama BPBD mendirikan posko darurat di wilayah terdampak. Petugas menyalurkan bantuan logistik berupa makanan siap saji, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya. Tim evakuasi juga mengerahkan perahu karet untuk membantu mobilitas warga, terutama anak-anak dan lansia.
Penjabat Bupati Brebes, Djoko Gunawan, menegaskan bahwa pemerintah daerah akan mempercepat pembangunan tanggul laut di zona rawan. Selain itu, pemerintah melakukan normalisasi saluran air agar genangan dapat surut lebih cepat saat pasang terjadi.
“Kami mempercepat pembangunan tanggul laut dan memperbaiki sistem drainase agar penanganan banjir rob di pesisir Brebes lebih efektif dan berkelanjutan,” ujar Djoko dalam keterangan resmi.
Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan instansi teknis di tingkat provinsi dan pusat guna memperoleh dukungan anggaran dan pendampingan teknis. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem perlindungan pesisir secara menyeluruh.
Mitigasi Jangka Panjang dan Peran Masyarakat
Selain langkah darurat, warga pesisir mulai meningkatkan upaya mitigasi berbasis komunitas. Mereka bergotong royong membersihkan saluran air untuk memastikan aliran tidak tersumbat saat air pasang datang. Beberapa kelompok masyarakat juga menanam mangrove sebagai penahan abrasi alami.
Kelompok siaga bencana desa aktif memberikan edukasi mengenai tanda-tanda pasang ekstrem dan prosedur evakuasi. Edukasi tersebut penting agar warga dapat merespons lebih cepat dan meminimalkan risiko kerugian.
Pakar lingkungan menilai banjir rob di pesisir Brebes dipengaruhi kombinasi kenaikan muka air laut, sedimentasi sungai, dan penurunan muka tanah. Karena itu, kebijakan tata ruang dan pembangunan di kawasan pesisir perlu mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan.
Banjir rob di pesisir Brebes pada November 2025 menjadi pengingat bahwa ancaman di wilayah pantura semakin kompleks. Ribuan warga terdampak, aktivitas ekonomi terganggu, dan fasilitas publik lumpuh sementara. Pemerintah telah mengambil langkah cepat, namun solusi jangka panjang melalui perencanaan terintegrasi dan partisipasi masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana di masa mendatang.








